Rabu, 16 Desember 2015

Pesona Pari yang Memanjakan Mata





Hamparan laut biru jernih yang menghiasi tepian pulau, tampak memanjakan mata para wisatawan saat pertama kali mendarat di Pulau Pari ini. Penat yang dirasakan sesaat sampai di pulau ini tidak seberapa ketika wisatawan disuguhkan dengan pantai nan indah.
           
            Jakarta (7/11) Bermula dari pelabuhan Muara Angke, rombongan Fikom Universitas Bunda Mulia langsung menuju kapal yang akan kami tumpangi untuk sampai di sebuah pulau yang bernama Pulau Pari. Kapal tersebut cukup besar dan dapat menampung rombongan UBM yang berjumlah 107 orang beserta wisatawan lokal lainnya. Seluruh biaya seperti tiket kapal dengan harga Rp 47.000,- serta fasilitas-fasilitas dan juga makan telah digabung dalam paket tour yang kami dapatkan seharga Rp 340.000,- per orang. Sehingga dari pelabuhan, kami diberi tiket dan langsung menuju kapal.

            Sesampainya di Pulau Pari, wisatawan dibawa menuju homestay yang merupakan  rumah penduduk lokal yang sengaja disewakan untuk para wisatawan. Homestay tersebut dilengkapi oleh beberapa kamar yang memiliki fasilitas AC dan juga telah disediakan kasur,         2 kamar mandi, memiliki ruang tamu dan juga televisi. Tidak hanya itu, fasilitas lain seperti sepeda juga disediakan sehingga wisatawan dapat menggunakan sepeda untuk berkeliling pulau pari ini. 

            Terlintas dipikiran mengapa dinamakan Pulau Pari, padahal tidak terlihat ikan pari di sekitar pantai. Ternyata pada tahun 80 an pulau ini dihuni oleh banyak ikan pari yang muncul hingga ditepian pantai, maka muncul ide untuk menamakan pulau tersebut Pulau Pari. Namun sangat disayangkan karena selalu diburu oleh warga lokal, populasi ikan pari menyusut dan mulai pindah ke laut dalam, itulah mengapa tidak ada ikan pari terlihat di tepian pantai. Sebelum pulau ini menjadi destinasi para wisatawan, pekerjaan warga sekitar adalah petani rumput laut. namun karena polusi yang berasal dari limbah kapal yang melintas Pulau Pari, maka rumput laut tidak dapat berkembang biak dengan baik. Setelah kegagalan tersebut, maka warga lokal memutuskan untuk membuat Pulau Pari menjadi tempat wisata.  Pulau Pari pertama kali dijadikan tempat wisata adalah pada tahun 2010. Pari menjadi pulau yang diminati karena keadaan  lingkungannya yang masih asri, begitulah cerita singkat dari Ibu Jubaidah seorang pedangang di Pulau Pari.

            Dari segi fasilitas, yang ada dipulau ini sudah bisa dibilang memadai namun tidak juga dapat dibilang baik sepenuhnya, karena apa bila dibandingkan dengan wisata pulau lainnya masih memiliki perbedaan jauh dari segi fasilitas. Penduduk lokal Pulau Pari sendiri masih mengelolah pariwisata ini sendiri tanpa bantuan pemerintah. “ Ya kalo selama ini, pemerintah kita masih belum, jadi kita masi swadaya masyarakat saja. Pemerintah hanya memberi dukungan.” kata Bapak Nurhayat Ketua RW Pulau Pari. Sangat disayangkan wisata yang ada di Indonesia seperti ini yang memiliki potensi untuk menarik minat wisatawan internasional tidak dikembangkan dengan baik. Pada awal tahun pertama dibuka para pengunjung memuncak hingga pada akhir tahun 2013 pengunjung mulai berkurang. Padahal sektor pariwisata berperan besar terhadap pemasukan Negara Indonesia. Menurut dosen ekonomi Dr. Edi Purwanto, S. Th., SE, MM proyek-proyek pengembangan pariwisata Indonesia baik dari pemerintahan maupun dari investor sangat menguntungkan. Pulau Pari tidak dapat dipungkiri keindahannya.

            Pulau Pari sendiri juga dikelilingi oleh pantai yang diberi nama unik seperti Pantai Kresek yang merupakan singkatan dari ‘Keren dan Seksi’ dan juga Pantai Perawan. Diantara kedua pantai tersebut, yang paling diminati oleh wisatawan adalah Pantai Perawan karena hamparan pasir putih dan juga lautan biru jernih yang menyatu dan tampak indah. Kegiatan yang dapat dilakukan di pantai tersebut adalah berenang, bermain voli, bahkan hanya sekedar kumpul-kumpul bersama keluarga dan berfoto-foto. 

            Salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh tour guidenya di Pantai Perawan ini adalah menanam pohon bakau. Antusias anak-anak Fikom UBM sangat kelihatan saat melakukan kegiatan ini walaupun terik matahari menyengat. Setelah mendengar penjelasan dari dosen, kemudian bibit-bibit pohon bakau dibagikan kepada mahasiswa dan kemudian dengan semangat mereka semua langsung menuju ke tengah pantai untuk menanam bibit tersebut.
 
            Setelah selesai menanam bibit bakau, anak-anak diberi waktu istirahat sebelum sunset tiba. Tampak raut wajah bahagia disetiap wajah mereka semua yang tertawa lepas, ada yang bermain air bersama yang lain, berfoto ria, bahkan hanya sekedar santai dan mengobrol. Namun sangat disayangkan, pada petang hari itu matahari terbenam tidak dapat terlihat dari pantai perawan padahal kurang pas rasanya pantai tanpa keindahan matahari terbenam yang memancarkan warna cahaya yang hangat tersebut. Salah satu kegiatan yang popular di Pulau pari ini adalah snorkeling di Pulau Burung dan Pulau Tengah yang memiliki spot-spot bagus bagi peminat snorkeling. Tapi sangat disayangkan rombongan kami tidak mencoba kegiatan yang satu ini karena kendala waktu.

            Kegiatan tidak hanya selesai sampai disitu, acara masih berlanjut hingga malam hari. Acara pada malam hari adalah acara panggang-panggang yang biasa disebut BBQ an yang diadakan di Pantai Kresek . Kami diberi waktu untuk membersihkan diri terlebih dahulu, setelah itu tepat jam19.00 WIB para rombongan berangkat menuju Pantai Kresek. Lokasi yang dituju cukup jauh bila berjalan kaki, maka ada yang menggunakan kendaraan sepeda untuk mencapai Pantai Kresek. Acara BBQ an tersebut telah dirancang sedemikian rupa, semua bahan telah dipersiapkan dimulai dari ikan , cumi, semua merupakan hasil tangkapan para nelayan sekitar yang masih segar. Bak tamu terhormat kami tidak perlu panggang-panggang sendiri melainkan hanya tinggal menyantapnya saja, hal tersebut telah dipersiapkan semuanya oleh tour guidenya. 

            Udara malam yang menyejukkan bertolak belakang dengan cuaca pada siang hari yang begitu panas. Dengan ditemani angin malam yang sejuk, membuat suasana begitu nyaman. Walaupun sejuk, tetapi suasana hangat tetap terbangun oleh canda tawa rombongan kami, dan oleh asyiknya perbincangan yang berlangsung. Tepat pukul 21.00 WIB acara BBQ an selesai dan anak-anak diminta untuk kembali ke homestay masing-masing untuk beristirahat. Keesokan paginya rombongan kami bersiap untuk kembali ke Jakarta dan berangkat pukul 11.00 WIB. 

            Banyak pulau-pulau kecil di Indonesia yang memiliki potensi untuk menjadi tempat wisata yang indah, hanya bagaimana cara masyarakat merawat tempat tersebut. Seperti yang dikatakan Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah Pariwisata Nusantara Tazbir Abdullah S.H wisata yang nyaman bukan berarti harus mewah tetapi bersih, aman, dan tertib, maka wisatawan akan menyukai tempat wisata tersebut.

Senin, 07 Desember 2015

Kumpulan berita selama 1 semester

*4 jenis berita dalam 1 topik
Pengeroyokan Gojek di Bekasi

*Berita Lempang
       Asep Supriatna (23) warga Teluk Buyung, Bekasi Utara yang berprofesi sebagai pengemudi Gojek menjadi sasaran amuk oleh ojek pangkalan pada hari Selasa lalu(25/8), sekitar pukul 15.30 WIB. Peristiwa tersebut bermula saat Asep hendak menarik sewa penumpang di Jl. Agus Salim, Bekasi Timur tepat di depan SMAN 01. Ia mendadak dihampiri oleh sejumlah anggota ojek pangkalan setempat.
     Cekcok pun tidak dapat dihindari oleh kedua belah pihak. Para anggota ojek pangkalan menanyakan mengapa Asep nekad mengambil sewa penumpang yang ada di wilayahnya, kisah Asep saat melapor pada SPK Polresta Bekasi Kota. Asep lantas berargumen membela dirinya yang membuat suasana semakin tidak terkendali. Disaat yang bersamaan beberapa pelaku menarik helm bahkan sampai merusak jok motor korban. Beberapa hari setelah kejadian, Asep menemui mereka lagi dengan bermaksud untuk menanyakan apa alasan ojek pangkalan setempat melakukan hal tersebut dan juga bermaksud untuk mengajak para pelaku untuk bergabung menjadi Gojek. Alih-alih diterima, sang korban kembali dikeroyok oleh ojek pangkalan.

*Berita bertafsir
       Peristiwa pengeroyokan itu terjadi karena rasa dengki dari pelaku yang merasa pengemudi gojek yang begitu gampangnya merebut penumpang yang berada di lokasi ojek pangkalan setempat. Hal baik yang ingin disampaikan oleh Asep yang baru saja bergabung di Gojek selama seminggu ditolak mentah-mentah oleh para pelaku. Merasa tidak ada cara lain, maka Asep melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib sehinggs para pelaku kemudian ditangkap dan kemudian dijerat hukum.
       Fenomena antara perseturuan Gojek dan ojek pangkalan memang tidak terhindarkan. Dari sisi masyarakat, mereka merasa aman, efektif, dan biayanya terjangkau saat menggunakan Gojek. Hal tersebut yang membuat para ojek pangkalan resah akan kehadiaran Gojek yang membuat pangkalan ojek setempat rugi dan merasa penumpangnya direbut .

*Berita Investigatif
    Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata ada beberapa titik wilayah yang rawan terjadi pengeroyokan seperti yang dialami korban. Paino (35) selaku koordinator Gojek wilayah bekasi menjelaskan bahwa wilayah tempat Asep mengalami pengeroyokan sudah dikenal rawan penolakan ojek online yang dikenal dengan nama Gojek ini dan banyak pengemudi Gojek yang baru sehingga belum paham akan wilayah-wilayah yang rawan tersebut sehingga masih saja ada pengemudi Gojek yang menjadi korban pengeroyokan di wilayah rawan.

*Berita Mendalam
       Setelah ditelusuri lebih dalam, ternyata sudah banyak peristiwa pengeroyokan tersebut, sehingga perusahaan gojek memutuskan agar para driver tidak melewati dan mengambil penumpang di daerah tertentu. Hal ini dilakukan guna menghindari pertikaian antara sesame tukang ojek. Beberapa lokasi yang tidak diasarankan adalah daerah UI, Manggarai, Tanah Abang, dan Kalibata, karena di daerah tersebut driver Gojek sempat mengalami berbagai insiden.
       Tidak hanya itu, untuk mempermudah driver menghindari wilayah yang rawan, perusahaan telah melengkapi aplikasi “warning” di setiap smartphone driver. Nantinya akan nada tanda merah di GPS driver yang menandakan daerah tersebut adalah daerah rawan. Tetapi masih ada beberapa driver yang belum paham atau mengetahui tentang aplikasi “warning” tersebut sehingga masi ada driver yang mengalami pengeroyokan tersebut.


*Berita Feature

Pesona Pari yang Memanjakan Mata
Hamparan laut biru jernih yang menghiasi tepian pulau, tampak memanjakan mata para wisatawan saat pertama kali mendarat di Pulau Pari ini. Penat yang dirasakan saat sampai di pulau ini tidak seberapa ketika wisatawan disuguhkan dengan pantai yang indah.
            Jakarta (7/11) Bermula dari pelabuhan Muara Angke, kami rombongan Fikom Universitas Bunda Mulia langsung menuju kapal yang akan kami tumpangi untuk sampai di Pulau Pari. Kapal tersebut cukup besar dan dapat menampung kami yang berjumlah 107 orang beserta wisatawan lokal lainnya. Seluruh biaya seperti tiket kapal dengan harga Rp 47.000,- serta fasilitas-fasilitas dan juga makan telah digabung dalam paket tour yang kami dapatkan seharga Rp 340.000,- per orang. Sehingga dari pelabuhan, kami diberi tiket dan langsung menuju kapal.
            Sesampainya di Pulau Pari, wisatawan dibawa menuju homestay yang berasal dari rumah penduduk yang sengaja disewakan untuk para wisatawan. Homestay tersebut dilengkapi oleh beberapa kamar yang memiliki fasilitas AC dan juga telah disediakan kasur, 2 kamar mandi, memiliki ruang tamu dan juga televisi. Tidak hanya itu, fasilitas lain seperti sepeda juga disediakan sehingga wisatawan dapat menggunakan sepeda untuk berkeliling pulau pari ini.
            Pulau Pari sendiri dikelilingi oleh pantai yang diberi nama unik seperti Pantai Kresek yang merupakan singkatan dari ‘Keren dan Seksi’ dan juga Pantai Perawan. Diantara kedua pantai tersebut, yang paling diminati oleh wisatawan adalah Pantai Perawan karena hamparan pasir putih dan juga lautan biru jernih yang menyatu dan tampak indah. Kegiatan yang dapat dilakukan di pantai tersebut adalah berenang, bermain voli, bahkan hanya sekedar kumpul-kumpul bersama keluarga dan berfoto-foto. Salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh tour guidenya di Pantai Perawan ini adalah menanam pohon bakau. Kegiatan lain yang diminati oleh wisatawan adalah snorkeling di Pulau Burung dan Pulau Tengah yang memiliki spot-spot bagus bagi peminat snorkeling.
            Setelah menikmati bermain di pantai, kegiatan ditutup dengan acara malam yaitu BBQ di Pantai Kresek. Untuk mencapai Pantai Kresek dari homestay, kami menggunakan sepeda yang telah disediakan karena jarak tempuhnya cukup jauh. Ditemani dengan angin malam yang sepoi membuat suasana semakin nyaman. Begitulah acara kami dari pagi hingga malam hari, keesokan paginya kami bersiap untuk berkemas dan kembali ke Jakarta.


 *lead berita feature ( lead kalimat pendek )



Semangat Pelajar Tak Mengenal Usia
  
         
Bangga! Diusianya yang hampir satu abad ia tetap semangat menjalankan dapat meraih gelar Diploma. Kadang kehidupan tidak berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Disaat ia seharusnya mengecap bangku pendidikannya, ia harus berhenti karena harus merawat sang adik, dan ibunya yang tubuhnya sedang digerogoti kanker.
Ialah nenek Bekema, dengan penuh perasaan sedih bercampur kecewa ia terpaksa berhenti sekolah diumurnya yang masih 17 tahun, sedangkan masa tersebut adalah masa-masa ia bersemangat untuk mengenyam pendidikan sekolah. Tetapi semangatnya tetap tinggal didalam dirinya hingga ia berumur 97 tahun. Semangat yang ada dalam dirinya tersebutlah yang membawa nenek yang memiliki nama panjang Margaret Thome Bekema meraih gelar Diplomanya disaat ia berumur 97 tahun yang seharusnya ia lulus pada tahun 1936.
Hal ini bermula saat keponakan dan juga anak nenek Bekema yang mendukung semangat bersekolah yang masih dimiliki olehnya. Sehingga mereka menghubungi pihak sekolah Grand Rapids Catholic Central High dan menceritakan tentang kisah nenek Bekema dan betapa berartinya jika ia berhasil mendapatkan gelar diploma dari sekolahnya tersebut. kisah yang dialami nenek Bekema banyak menginspirasi banyak orang dan membuat orang lebih bersemangat dan berusaha dalam mencapai cita-cita. Oleh sebab itu sekolah tempat nenek Bekema belajar tersebut tidak ragu untuk memberikan gelar diploma kepadanya.