Hamparan laut biru jernih yang menghiasi
tepian pulau, tampak memanjakan mata para wisatawan saat pertama kali mendarat
di Pulau Pari ini. Penat yang dirasakan sesaat sampai di pulau ini tidak
seberapa ketika wisatawan disuguhkan dengan pantai nan indah.
Jakarta
(7/11) Bermula dari pelabuhan Muara Angke, rombongan Fikom Universitas
Bunda Mulia langsung menuju kapal yang akan kami tumpangi untuk sampai di sebuah
pulau yang bernama Pulau Pari. Kapal tersebut cukup besar dan dapat menampung rombongan UBM yang berjumlah 107 orang beserta wisatawan lokal lainnya. Seluruh biaya
seperti tiket kapal dengan harga Rp 47.000,- serta fasilitas-fasilitas dan juga
makan telah digabung dalam paket tour yang kami dapatkan seharga Rp 340.000,-
per orang. Sehingga dari pelabuhan, kami diberi tiket dan langsung menuju
kapal.
Sesampainya
di Pulau Pari, wisatawan dibawa menuju homestay yang merupakan rumah penduduk lokal yang sengaja disewakan
untuk para wisatawan. Homestay tersebut dilengkapi oleh beberapa kamar yang
memiliki fasilitas AC dan juga telah disediakan kasur, 2 kamar mandi, memiliki ruang tamu dan
juga televisi. Tidak hanya itu, fasilitas lain seperti sepeda juga disediakan
sehingga wisatawan dapat menggunakan sepeda untuk berkeliling pulau pari ini.
Terlintas
dipikiran mengapa dinamakan Pulau Pari, padahal tidak terlihat ikan pari di
sekitar pantai. Ternyata pada tahun 80 an pulau ini dihuni oleh banyak ikan
pari yang muncul hingga ditepian pantai, maka muncul ide untuk menamakan pulau
tersebut Pulau Pari. Namun sangat disayangkan karena selalu diburu oleh warga
lokal, populasi ikan pari menyusut dan mulai pindah ke laut dalam, itulah
mengapa tidak ada ikan pari terlihat di tepian pantai. Sebelum pulau ini
menjadi destinasi para wisatawan, pekerjaan warga sekitar adalah petani rumput
laut. namun karena polusi yang berasal dari limbah kapal yang melintas Pulau
Pari, maka rumput laut tidak dapat berkembang biak dengan baik. Setelah
kegagalan tersebut, maka warga lokal memutuskan untuk membuat Pulau Pari
menjadi tempat wisata. Pulau Pari pertama
kali dijadikan tempat wisata adalah pada tahun 2010. Pari menjadi pulau yang
diminati karena keadaan lingkungannya
yang masih asri, begitulah cerita singkat dari Ibu Jubaidah seorang pedangang
di Pulau Pari.
Dari
segi fasilitas, yang ada dipulau ini sudah bisa dibilang memadai namun tidak
juga dapat dibilang baik sepenuhnya, karena apa bila dibandingkan dengan wisata
pulau lainnya masih memiliki perbedaan jauh dari segi fasilitas. Penduduk lokal
Pulau Pari sendiri masih mengelolah pariwisata ini sendiri tanpa bantuan
pemerintah. “ Ya kalo selama ini, pemerintah kita masih belum, jadi kita masi
swadaya masyarakat saja. Pemerintah hanya memberi dukungan.” kata Bapak
Nurhayat Ketua RW Pulau Pari. Sangat disayangkan wisata yang ada di Indonesia
seperti ini yang memiliki potensi untuk menarik minat wisatawan internasional
tidak dikembangkan dengan baik. Pada awal tahun pertama dibuka para pengunjung
memuncak hingga pada akhir tahun 2013 pengunjung mulai berkurang. Padahal sektor
pariwisata berperan besar terhadap pemasukan Negara Indonesia. Menurut dosen
ekonomi Dr. Edi Purwanto, S. Th., SE, MM proyek-proyek pengembangan pariwisata
Indonesia baik dari pemerintahan maupun dari investor sangat menguntungkan. Pulau
Pari tidak dapat dipungkiri keindahannya.
Pulau
Pari sendiri juga dikelilingi oleh pantai yang diberi nama unik seperti Pantai
Kresek yang merupakan singkatan dari ‘Keren dan Seksi’ dan juga Pantai Perawan.
Diantara kedua pantai tersebut, yang paling diminati oleh wisatawan adalah
Pantai Perawan karena hamparan pasir putih dan juga lautan biru jernih yang
menyatu dan tampak indah. Kegiatan yang dapat dilakukan di pantai tersebut
adalah berenang, bermain voli, bahkan hanya sekedar kumpul-kumpul bersama
keluarga dan berfoto-foto.
Salah
satu kegiatan yang diselenggarakan oleh tour guidenya di Pantai Perawan ini
adalah menanam pohon bakau. Antusias anak-anak Fikom UBM sangat kelihatan saat
melakukan kegiatan ini walaupun terik matahari menyengat. Setelah mendengar
penjelasan dari dosen, kemudian bibit-bibit pohon bakau dibagikan kepada
mahasiswa dan kemudian dengan semangat mereka semua langsung menuju ke tengah
pantai untuk menanam bibit tersebut.
Setelah
selesai menanam bibit bakau, anak-anak diberi waktu istirahat sebelum sunset
tiba. Tampak raut wajah bahagia disetiap wajah mereka semua yang tertawa lepas,
ada yang bermain air bersama yang lain, berfoto ria, bahkan hanya sekedar
santai dan mengobrol. Namun sangat disayangkan, pada petang hari itu matahari
terbenam tidak dapat terlihat dari pantai perawan padahal kurang pas rasanya
pantai tanpa keindahan matahari terbenam yang memancarkan warna cahaya yang
hangat tersebut. Salah satu kegiatan yang popular di Pulau pari ini adalah
snorkeling di Pulau Burung dan Pulau Tengah yang memiliki spot-spot bagus bagi
peminat snorkeling. Tapi sangat disayangkan rombongan kami tidak mencoba
kegiatan yang satu ini karena kendala waktu.
Kegiatan
tidak hanya selesai sampai disitu, acara masih berlanjut hingga malam hari.
Acara pada malam hari adalah acara panggang-panggang yang biasa disebut BBQ an
yang diadakan di Pantai Kresek . Kami diberi waktu untuk membersihkan diri
terlebih dahulu, setelah itu tepat jam19.00 WIB para rombongan berangkat menuju
Pantai Kresek. Lokasi yang dituju cukup jauh bila berjalan kaki, maka ada yang
menggunakan kendaraan sepeda untuk mencapai Pantai Kresek. Acara BBQ an
tersebut telah dirancang sedemikian rupa, semua bahan telah dipersiapkan
dimulai dari ikan , cumi, semua merupakan hasil tangkapan para nelayan sekitar
yang masih segar. Bak tamu terhormat kami tidak perlu panggang-panggang sendiri
melainkan hanya tinggal menyantapnya saja, hal tersebut telah dipersiapkan
semuanya oleh tour guidenya.
Udara
malam yang menyejukkan bertolak belakang dengan cuaca pada siang hari yang
begitu panas. Dengan ditemani angin malam yang sejuk, membuat suasana begitu
nyaman. Walaupun sejuk, tetapi suasana hangat tetap terbangun oleh canda tawa
rombongan kami, dan oleh asyiknya perbincangan yang berlangsung. Tepat pukul
21.00 WIB acara BBQ an selesai dan anak-anak diminta untuk kembali ke homestay
masing-masing untuk beristirahat. Keesokan paginya rombongan kami bersiap untuk
kembali ke Jakarta dan berangkat pukul 11.00 WIB.
Banyak
pulau-pulau kecil di Indonesia yang memiliki potensi untuk menjadi tempat
wisata yang indah, hanya bagaimana cara masyarakat merawat tempat tersebut.
Seperti yang dikatakan Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah Pariwisata Nusantara Tazbir Abdullah S.H wisata yang
nyaman bukan berarti harus mewah tetapi bersih, aman, dan tertib, maka wisatawan
akan menyukai tempat wisata tersebut.


