*4 jenis berita dalam 1 topik
Pengeroyokan Gojek di Bekasi
*Berita Lempang
Asep Supriatna (23) warga Teluk Buyung, Bekasi Utara yang berprofesi sebagai pengemudi Gojek menjadi sasaran amuk oleh ojek pangkalan pada hari Selasa lalu(25/8), sekitar pukul 15.30 WIB. Peristiwa tersebut bermula saat Asep hendak menarik sewa
penumpang di Jl. Agus Salim, Bekasi Timur tepat di depan SMAN 01. Ia mendadak
dihampiri oleh sejumlah anggota ojek pangkalan setempat.
Cekcok pun tidak dapat dihindari oleh kedua belah pihak. Para
anggota ojek pangkalan menanyakan mengapa Asep nekad mengambil sewa penumpang
yang ada di wilayahnya, kisah Asep saat melapor pada SPK Polresta Bekasi Kota.
Asep lantas berargumen membela dirinya yang membuat suasana semakin tidak
terkendali. Disaat yang bersamaan beberapa pelaku menarik helm bahkan sampai
merusak jok motor korban. Beberapa hari setelah kejadian, Asep menemui mereka
lagi dengan bermaksud untuk menanyakan apa alasan ojek pangkalan setempat
melakukan hal tersebut dan juga bermaksud untuk mengajak para pelaku untuk
bergabung menjadi Gojek. Alih-alih diterima, sang korban kembali dikeroyok oleh
ojek pangkalan.
*Berita bertafsir
Peristiwa pengeroyokan itu terjadi karena rasa dengki dari
pelaku yang merasa pengemudi gojek yang begitu gampangnya merebut penumpang
yang berada di lokasi ojek pangkalan setempat. Hal baik yang ingin disampaikan
oleh Asep yang baru saja bergabung di Gojek selama seminggu ditolak
mentah-mentah oleh para pelaku. Merasa tidak ada cara lain, maka Asep
melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib sehinggs para pelaku kemudian
ditangkap dan kemudian dijerat hukum.
Fenomena antara perseturuan Gojek dan ojek pangkalan memang
tidak terhindarkan. Dari sisi masyarakat, mereka merasa aman, efektif, dan
biayanya terjangkau saat menggunakan Gojek. Hal tersebut yang membuat para ojek
pangkalan resah akan kehadiaran Gojek yang membuat pangkalan ojek setempat rugi
dan merasa penumpangnya direbut .
*Berita Investigatif
Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata ada beberapa titik
wilayah yang rawan terjadi pengeroyokan seperti yang dialami korban. Paino (35) selaku
koordinator Gojek wilayah bekasi menjelaskan bahwa wilayah tempat Asep
mengalami pengeroyokan sudah dikenal rawan penolakan ojek online yang dikenal
dengan nama Gojek ini dan banyak pengemudi Gojek yang baru sehingga belum paham
akan wilayah-wilayah yang rawan tersebut sehingga masih saja ada pengemudi
Gojek yang menjadi korban pengeroyokan di wilayah rawan.
*Berita Mendalam
Setelah ditelusuri lebih dalam, ternyata sudah banyak
peristiwa pengeroyokan tersebut, sehingga perusahaan gojek memutuskan agar para
driver tidak melewati dan mengambil penumpang di daerah tertentu. Hal ini
dilakukan guna menghindari pertikaian antara sesame tukang ojek. Beberapa lokasi
yang tidak diasarankan adalah daerah UI, Manggarai, Tanah Abang, dan Kalibata,
karena di daerah tersebut driver Gojek sempat mengalami berbagai insiden.
Tidak hanya itu, untuk mempermudah driver menghindari
wilayah yang rawan, perusahaan telah melengkapi aplikasi “warning” di setiap
smartphone driver. Nantinya akan nada tanda merah di GPS driver yang menandakan
daerah tersebut adalah daerah rawan. Tetapi masih ada beberapa driver yang
belum paham atau mengetahui tentang aplikasi “warning” tersebut sehingga masi
ada driver yang mengalami pengeroyokan tersebut.
Hamparan laut biru jernih yang menghiasi
tepian pulau, tampak memanjakan mata para wisatawan saat pertama kali mendarat
di Pulau Pari ini. Penat yang dirasakan saat sampai di pulau ini tidak seberapa
ketika wisatawan disuguhkan dengan pantai yang indah.
Jakarta
(7/11) Bermula dari pelabuhan Muara Angke, kami rombongan Fikom Universitas
Bunda Mulia langsung menuju kapal yang akan kami tumpangi untuk sampai di Pulau
Pari. Kapal tersebut cukup besar dan dapat menampung kami yang berjumlah 107
orang beserta wisatawan lokal lainnya. Seluruh biaya seperti tiket kapal dengan
harga Rp 47.000,- serta fasilitas-fasilitas dan juga makan telah digabung dalam
paket tour yang kami dapatkan seharga Rp 340.000,- per orang. Sehingga dari
pelabuhan, kami diberi tiket dan langsung menuju kapal.
Sesampainya
di Pulau Pari, wisatawan dibawa menuju homestay yang berasal dari rumah
penduduk yang sengaja disewakan untuk para wisatawan. Homestay tersebut
dilengkapi oleh beberapa kamar yang memiliki fasilitas AC dan juga telah
disediakan kasur, 2 kamar mandi, memiliki ruang tamu dan juga televisi. Tidak
hanya itu, fasilitas lain seperti sepeda juga disediakan sehingga wisatawan
dapat menggunakan sepeda untuk berkeliling pulau pari ini.
Pulau
Pari sendiri dikelilingi oleh pantai yang diberi nama unik seperti Pantai
Kresek yang merupakan singkatan dari ‘Keren dan Seksi’ dan juga Pantai Perawan.
Diantara kedua pantai tersebut, yang paling diminati oleh wisatawan adalah
Pantai Perawan karena hamparan pasir putih dan juga lautan biru jernih yang
menyatu dan tampak indah. Kegiatan yang dapat dilakukan di pantai tersebut
adalah berenang, bermain voli, bahkan hanya sekedar kumpul-kumpul bersama
keluarga dan berfoto-foto. Salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh tour
guidenya di Pantai Perawan ini adalah menanam pohon bakau. Kegiatan lain yang
diminati oleh wisatawan adalah snorkeling di Pulau Burung dan Pulau Tengah yang
memiliki spot-spot bagus bagi peminat snorkeling.
Setelah
menikmati bermain di pantai, kegiatan ditutup dengan acara malam yaitu BBQ di
Pantai Kresek. Untuk mencapai Pantai Kresek dari homestay, kami menggunakan
sepeda yang telah disediakan karena jarak tempuhnya cukup jauh. Ditemani dengan
angin malam yang sepoi membuat suasana semakin nyaman. Begitulah acara kami
dari pagi hingga malam hari, keesokan paginya kami bersiap untuk berkemas dan
kembali ke Jakarta.
*lead berita feature ( lead kalimat pendek )
Semangat Pelajar Tak Mengenal Usia
Bangga! Diusianya yang hampir satu
abad ia tetap semangat menjalankan dapat meraih gelar Diploma. Kadang kehidupan
tidak berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Disaat ia seharusnya mengecap
bangku pendidikannya, ia harus berhenti karena harus merawat sang adik, dan
ibunya yang tubuhnya sedang digerogoti kanker.
Ialah nenek Bekema, dengan penuh
perasaan sedih bercampur kecewa ia terpaksa berhenti sekolah diumurnya yang
masih 17 tahun, sedangkan masa tersebut adalah masa-masa ia bersemangat untuk
mengenyam pendidikan sekolah. Tetapi semangatnya tetap tinggal didalam dirinya
hingga ia berumur 97 tahun. Semangat yang ada dalam dirinya tersebutlah yang
membawa nenek yang memiliki nama panjang Margaret Thome Bekema meraih gelar
Diplomanya disaat ia berumur 97 tahun yang seharusnya ia lulus pada tahun 1936.
Hal ini bermula saat keponakan dan
juga anak nenek Bekema yang mendukung semangat bersekolah yang masih dimiliki
olehnya. Sehingga mereka menghubungi pihak sekolah Grand Rapids Catholic
Central High dan menceritakan tentang kisah nenek Bekema dan betapa berartinya
jika ia berhasil mendapatkan gelar diploma dari sekolahnya tersebut. kisah yang
dialami nenek Bekema banyak menginspirasi banyak orang dan membuat orang lebih
bersemangat dan berusaha dalam mencapai cita-cita. Oleh sebab itu sekolah
tempat nenek Bekema belajar tersebut tidak ragu untuk memberikan gelar diploma
kepadanya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar